Hari ibu di Indonesia dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.
Bagi saya munculnya perbedaan dalam memperingati hari ibu bukanlah hal yang esensial akan tetapi kenapa itu hal itu muncul dan perlu di peringati itulah yang menjadi menjadi perhatian bersama, dan tampaknya consessus seluruh manusia di muka bumi ini, dari lintas ras, agama, budaya, tua-muda, telah meletakkan peran ibu dalam puncak tertinggi sebagai sosok yang sangat dihormati, sepertinya sulit mencari timbangan seimbang dalam peran ibu baik dalam lingkup kecil keluarga, masyarakat dan bangsa.
Bila di tilik dari segi
kesehatan tampaknya perhatian terhadap para ibu hamil atau pun calon ibu masih
jauh dari harapan yang ideal sebanding jasa mereka. bagaimana di Indonesia?
Data terakhir yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) September 2013, diperoleh fakta yang mengejutkan mengenai angka kematian ibu dan bayi. SDKI memberikan hasil angka kematian ibu (AKI) mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Rata-rata ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencatat angkat 228 per 100 ribu kelahiran hidup.
"Hal ini menjadi ironi karena target MDG's
Indonesia pada tahun 2015 sendiri adalah 108 per 100 ribu kelahiran
hidup," ujar Laksono Trisnantoro, Guru Besar Fakultas Kedokteran dan
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada, di Jakarta, Selasa
(beritasatu.com 29/10). Oleh Karena itu, Menteri Kesehatan ibu Nafsiah Mboi di
Jakarta, Senin (12/11/2012), dalam Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN)
2012 memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan ibu dan anak karena
indikator MDGs itu masih jauh dari target yang harus dicapai pada 2015
Lebih lanjut ibu Nafsiah Mboi mengatakan bahwa
angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia
tinggi karena persalinan masih banyak dilakukan di rumah dan usia ibu
melahirkan yang terlalu muda. Disisi lain penyebab utama kematian pada ibu
melahirkan adalah perdarahan dan infeksi yang tidak tertolong karena banyak
yang masih memilih untuk melahirkan di rumah, tidak di rumah sakit atau
puskesmas.
Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti
memaparkan pemerintah telah melakukan terobosan-terobosan untuk menurunkan AKI
dan AKB seperti penerapan jaminan persalinan (Jampersal) maupun sistem
penanggulangan kegawatdaruratan terpadu (SPGDT).
"Sekarang ada yang kita sebut sister hospital, dimana rumah sakit di daerah sulit seperti
daerah terpencil atau perbatasan, dibantuk oleh sister hospitalnya di kota
besar, dengan mengirim tim lengkap ke daerah-daerah yang angka kematian ibunya
tinggi," kata Ghufron.
Hanya saja konsep Sister hospital itu baru
terlaksana di beberapa rumah sakit di kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta,
Medan dan Makassar dan diharapkan dapat juga dijalankan oleh rumah sakit-rumah
sakit lainnya.

1 komentar:
wah blognya gapernah apdet lagi nih
Posting Komentar